<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AGRIKA INDORAYA</title>
	<atom:link href="http://www.agrikaindoraya.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.agrikaindoraya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Nov 2011 04:26:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>pabrik oksigen itu bernama pohon</title>
		<link>http://www.agrikaindoraya.com/pabrik-oksigen-itu-bernama-pohon/</link>
		<comments>http://www.agrikaindoraya.com/pabrik-oksigen-itu-bernama-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 04:19:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.agrikaindoraya.com/?p=598</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Redaksi Agrika Penduduk dunia kini telah mencapai 7 milyar, bahkan ada kecenderungan jumlah tersebut kian bertambah. Negara dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Cina (1.306.313.812 jiwa), India (1.103.600.000 jiwa), Amerika Serikat (298.186.698 jiwa), dan Indonesia (241.973.879 jiwa). Manusia sebagai mahluk hidup tentunya membutuhkan oksigen untuk proses pembakaran bahan bakar (respirasi) di dalam tubuh untuk menghasilkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Redaksi Agrika</strong></p>
<div id="attachment_601" class="wp-caption alignleft" style="width: 269px"><a rel="attachment wp-att-601" href="http://www.agrikaindoraya.com/pabrik-oksigen-itu-bernama-pohon/hutan/"><img class="size-full wp-image-601" title="hutan" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/11/hutan.jpg" alt="" width="259" height="194" /></a><p class="wp-caption-text">tanaman sebagai produsen oksigen</p></div>
<p>Penduduk dunia kini telah mencapai 7 milyar, bahkan ada kecenderungan jumlah tersebut kian bertambah. Negara dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Cina (1.306.313.812 jiwa), India (1.103.600.000 jiwa), Amerika Serikat (298.186.698 jiwa), dan Indonesia (241.973.879 jiwa). Manusia sebagai mahluk hidup tentunya membutuhkan oksigen untuk proses pembakaran bahan bakar (respirasi) di dalam tubuh untuk menghasilkan energi agar terus mempertahankan hidupnya. Manusia sendiri membutuhkan oksigen sekitar 67% dari tubuh manusia. Setiap manusia mengkonsumsi oksigen dalam jumlah yang sama sebesar 600 liter/hari atau 840 gram/hari (Gerakis 1974 dalam Wisesa 1988). Memang selama ini oksigen didapat secara cuma-cuma dari alam. Namun, apakah oksigen akan terus tersedia melimpah di alam?<span id="more-598"></span></p>
<p>Meningkatnya perkembangan pembangunan dan penduduk akan menyebabkan penurunan luas lahan hutan atau vegetasi. Peningkatan kendaraan umum dan jumlah penduduk akan berimplikasi pada peningkatan gas buangan CO<sub>2</sub> dan CO ke udara. Dengan semakin meningkatnya populasi penduduk, maka berdampak juga terhadap produktivitas pohon dan berpengaruh terhadap kualitas udara yang mengandung oksigen karena pencemaran udara yang disebabkan kendaraan umum. Emisi yang dikeluarkan oleh satu kendaraan umum adalah sebesar 252 ton/hektar (Andrea 2008). Angka ini menyebabkan polusi besar dan merupakan salah satu penyebab <em>Global Warming</em> yang menjadi isu dunia.</p>
<p>Dengan kondisi tersebut, apakah produksi oksigen masih dalam kondisi yang ideal? Secara rata-rata, dalam daur hidupnya setiap pohon bisa mencukupi oksigen (O<sub>2</sub>) untuk kebutuhan 18 (delapan belas) orang dan menyerap karbondioksida (CO<sub>2</sub>) dari mobil yang berjalan sekitar 41.834 km. Pohon besar menyerap kira-kira sebesar 120-240 <em>pounds</em> partikel kecil tau gas polutan. Hanya tumbuhanlah yang menghasilkan oksigen di bumi ini (Jalal 2007). Menurut Bernatzky (1978) pohon dengan tinggi 25 m dan diameter batang 15 m, akan mempunyai luas tutupan batang 160 m² dan luas permukaan daun sebesar 1600 m², akan menghasilkan oksigen sebanyak 1712 gram. Sedangkanuntuk 1 hektar lahan hijau dengan total luas permukaan daun 5 hektar akan membutuhkan 900 kg CO<sub>2</sub> untuk melakukan fotosintesis selama 12 jam, dan pada waktu yang sama akan menghasilkan 600 kg O<sub>2</sub>.</p>
<p>Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, lahan yang tadinya merupakan tempat tumbuhnya pohon menjadi berkurang. Padahal, luas ideal lahan hijau di perkotaan inimal adalah 40%. Jika kurang dari angka 40%, akan dirasa kurang dalam menangani masalah <em>Global Warming</em> ke depannya. Karenanya, sangat disarankan bagi tiap-tiap rumah mempunyai tanaman hijau sebagai penopang kebutuhan oksigen dan menyerap CO<sub>2</sub> dan CO di dalam atau pun di luar rumah. Selain itu, area lahan terbuka hijau yang ada sebaiknya tidak dikonversi menjadi pemukiman, kawasan industri, atau yang lainnya. Keberadaan hutan sebagai mesin pencetak oksigen juga harus tetap dipertahankan demi keberlangsungan bumi tercinta ini.</p>
<p><em>dari berbagai sumber</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.agrikaindoraya.com/pabrik-oksigen-itu-bernama-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>promo bibit jabon november 2011</title>
		<link>http://www.agrikaindoraya.com/promo-bibit-jabon-november-2011/</link>
		<comments>http://www.agrikaindoraya.com/promo-bibit-jabon-november-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 02:57:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.agrikaindoraya.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-594" href="http://www.agrikaindoraya.com/promo-bibit-jabon-november-2011/iklan-nov-2011-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-594" title="promosi bibit jabon november 2011" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/10/iklan-nov-20118.jpg" alt="" width="680" height="510" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.agrikaindoraya.com/promo-bibit-jabon-november-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>cara mudah menanam jabon</title>
		<link>http://www.agrikaindoraya.com/cara-mudah-menanam-jabon/</link>
		<comments>http://www.agrikaindoraya.com/cara-mudah-menanam-jabon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 15:22:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.agrikaindoraya.com/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : redaksi agrika Jabon merupakan salah satu tanaman kayu cepat tumbuh. Pada usia mudanya, pertumbuhan diameter jabon bisa menembus angka 10 cm/tahun. Batangnya yang lurus dan silinder juga menjadi nilai plus bagi tanaman bongsor ini. Potensi tersebut akan muncul ketika jabon ditanam di tempat yang tepat dan dengan perawatan yang optimal. Meskipun jabon bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : redaksi agrika</strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-581" href="http://www.agrikaindoraya.com/cara-mudah-menanam-jabon/attachment/12/"><img class="alignleft size-full wp-image-581" title="tanaman jabon" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/10/12.jpg" alt="" width="180" height="135" /></a>Jabon merupakan salah satu tanaman kayu cepat tumbuh. Pada usia mudanya, pertumbuhan diameter jabon bisa menembus angka 10 cm/tahun. Batangnya yang lurus dan silinder juga menjadi nilai plus bagi tanaman bongsor ini. Potensi tersebut akan muncul ketika jabon ditanam di tempat yang tepat dan dengan perawatan yang optimal.</p>
<p>Meskipun jabon bisa tumbuh di dataran hingga ketinggian 1.000 m dpl, sebaiknya penanaman jabon memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut.<span id="more-535"></span></p>
<p>• Hindari lahan-lahan yang becek dan berpotensi tergenang pada musim hujan. Kondisi tanah tersebut memang tidak mematikan tanaman jabon, tetapi akan mengurangi pertumbuhan jabon.</p>
<p>• Jabon akan tumbuh secara produktif jika ditanam di bawah ketinggian 500 m dpl.</p>
<p>• Jabon tidak tahan terhadap naungan, bebaskan naungan sewaktu penyiapan lahan.</p>
<p>• Waspadai semak belukar di awal penanaman jabon yang mungkin akan menutup bibit yang baru ditanam sehingga tanaman jabon bisa mati karena kalah saing dalam sinar matahari, ruang, dan nutrisi dengan semak belukar.</p>
<p>Adapun tahap-tahap penanaman jabon sebagai berikut.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-587" href="http://www.agrikaindoraya.com/cara-mudah-menanam-jabon/cara-nanam-jabon-2/"><img class="alignleft size-full wp-image-587" title="cara nanam jabon" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/10/cara-nanam-jabon1.jpg" alt="" width="510" height="680" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-588" href="http://www.agrikaindoraya.com/cara-mudah-menanam-jabon/cara-nanam-jabon2/"><img class="alignleft size-full wp-image-588" title="cara nanam jabon2" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/10/cara-nanam-jabon2.jpg" alt="" width="510" height="680" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-589" href="http://www.agrikaindoraya.com/cara-mudah-menanam-jabon/cara-nanam-jabon3/"><img class="alignleft size-full wp-image-589" title="cara nanam jabon3" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/10/cara-nanam-jabon3.jpg" alt="" width="510" height="680" /></a></p>
<p><a rel="attachment wp-att-590" href="http://www.agrikaindoraya.com/cara-mudah-menanam-jabon/cara-nanam-jabon4/"><img class="alignleft size-full wp-image-590" title="cara nanam jabon4" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/10/cara-nanam-jabon4.jpg" alt="" width="510" height="680" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.agrikaindoraya.com/cara-mudah-menanam-jabon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanam Tabulampot Sawo</title>
		<link>http://www.agrikaindoraya.com/menanam-tabulampot-sawo/</link>
		<comments>http://www.agrikaindoraya.com/menanam-tabulampot-sawo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.agrikaindoraya.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[oleh: redaksi Agrika Sawo (Achras zapota) merupakan tanaman buah berupa pohon yang dapat tumbuh besar dan berbuah lebat. Daunnya yang rimbun mampu menjadi penaung dari sengatan matahari. Tanaman yang sebelumnya berada di daerah tropis Guatemala (Amerika Tengah), Mexico, dan Hindia Barat ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan urutan klasifikasi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>oleh: redaksi Agrika</strong></p>
<div id="attachment_432" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-432" href="http://www.agrikaindoraya.com/menanam-tabulampot-sawo/molix-sapodilla/"><img class="size-medium wp-image-432" title="Molix-Sapodilla" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/06/Molix-Sapodilla-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Sawo. Rasanya yang manis, membuatnya kian diminati</p></div>
<p>Sawo (<em>Achras zapota</em>) merupakan tanaman buah berupa pohon yang dapat tumbuh besar dan berbuah lebat. Daunnya yang rimbun mampu menjadi penaung dari sengatan matahari. Tanaman yang sebelumnya berada di daerah tropis Guatemala (Amerika Tengah), Mexico, dan Hindia Barat ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan urutan klasifikasi di kalangan ilmiah, sawo yang disebut <em>neesbery </em>atau sapodilla tergolong ke dalam famili Sapotaceae.</p>
<p><span id="more-431"></span></p>
<p>Tanaman sawo tak hanya dapat diambil buahnya tetapi juga getahnya yang terdapat pada kulit batang, daun, dan empulur pohon sawo. Di negara asalnya, tanaman sawo hanya diambil getahnya untuk bahan baku pembuatan permen karet, sedangkan di Indonesia sawo dibudidayakan untuk dinikmati buahnya. Manfaat lain dari tanaman sawo adalah kayunya yang bagu serta di setiap bagian tanamannya memiliki kandungan tertentu untuk pengobatan tradisional. Nama lokal untuk tanaman sawo, ialah : Sawo Manila (Melayu), Saus (Padang), Sawo Manila (Sunda), Sawo Manila (Jawa Tengah), Sabu manela (Madura), Sabo jawa (Bali).</p>
<ol>
<li><strong>Syarat tumbuh</strong></li>
</ol>
<p><strong>Iklim</strong></p>
<p>Tanaman ini optimal dibudidayakan pada daerah yang beriklim basah sampai kering dengan pembagian bulan basah dan bulan kering yang dikehendaki yaitu 12 bulan basah atau 10 bulan basah dengan 2 bulan kering atau 9 bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan basah dengan 5 bulan kering dan atau 5 bulan basah dengan 7 bulan kering. Tanaman sawo tetap dapat berkembang baik pada suhu antara 22-32 ºC, dengan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun. Tanaman sawo dapat berkembang baik dengan cukup mendapat sinar matahari namun toleran terhadap keadaan teduh (naungan).</p>
<p>Tanaman sawo tahan terhadap kekeringan, <a title="Salinitas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Salinitas">salinitas</a> yang agak tinggi, dan tiupan angin keras.</p>
<p><strong>Media Tanam</strong></p>
<p>Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman sawo adalah tanah lempung berpasir (latosol) yang subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik. Tetapi hampir semua jenis tanah yang diginakan untuk pertanian cocok untuk ditanami sawo, seperti jenis tanah andosol (daerah vulkan), aluvial loams (daerah aliran sungai), dan loamy soils (tanah berlempung). Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo adalah antara 6–7. Kedalaman air tanah yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo, yaitu antara 50 cm sampai 200 cm.</p>
<p><strong>Ketinggian Tempat</strong></p>
<p>Daerah-daerah yang sesuai untuk tanaman sawo dapat berkembang dan berproduksi dengan baik, yaitu dataran rendah sampai dengan ketinggian 700 m dpl. Namun, sebenarnya tanaman sawo dapat hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai dengan ketinggian 1.200 m dpl.</p>
<p><strong>2. Menanam Tabulampot Sawo</strong></p>
<div id="attachment_433" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a rel="attachment wp-att-433" href="http://www.agrikaindoraya.com/menanam-tabulampot-sawo/pohon_sawo_manila/"><img class="size-medium wp-image-433" title="Pohon Sawo Manila" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/06/Pohon_Sawo_Manila-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sawo dalam pot (foto: http://tamankarnasia.blogspot.com)</p></div>
<p>Menanam tanaman sawo dalam pot dapat menggunakan bibit asal biji, jika tujuannya untuk membentuk tajuk yang indah sebagai penghias pekarangan. Akan tetapi, bibit asal biji ini memiliki masa pertumbuhan yang sangat lambat, apalagi untuk mencapai masa berbuahnya. Oleh karena itu, dapat dipilih bibit cangkok sebagai alternatif, dengan syarat batang pokoknya harus lurus dan percabangannya menarik agar memudahkan dalam hal pemangkasan serta kelak tidak hanya mempesona disaat berbuah saja. Pilih bibit yang sehat dengan daun hijau segar dan mengembang sempurna serta bebas hama penyakit. Bibit cangkokan dipilih yang cabang atau rantingnya bagus dan sehat.</p>
<p><strong>Menyiapkan pot</strong></p>
<p>Pilihan penggunaan pot untuk tanaman sawo dapat berupa pot dari semen, kayu atau drum bekas. Namun, yang paling praktis ialah pot dari drum bekas, karena selain tidak beresiko pecah ketika dipindahkan, pot dari drum bekas ini juga tahan lama. Ukuran pot minimal untuk tanaman sawo sebaiknya yang bediameter 30 cm atau disesuaikan dengan ukuran tanaman, dan yang terpenting dari apapun jenis dan bahan pot yang digunakan ialah adanya lubang untuk pembuangan air di bagian dasar pot yang cukup baik. Seperti misalnya pada drum bekas perlu dibuat lubang sebanyak 5 buah dengan diameter masing-masing 1 cm.</p>
<p><strong>Menyiapkan media tanam</strong></p>
<p>Penggunaan media tanam dalam pot harus benar-benar diperhatikan. Media tanam yang dapat digunakan ialah seperti campuran pupuk kandang/kompos yang telah matang dengan tanah (1:1). Kedua media tersebut dicampur merata sebelum dimasukkan ke dalam pot.</p>
<p><strong>Penanaman bibit dalam pot</strong></p>
<ol>
<li>Dasar pot dialasi ijuk atau pecahan genteng dengan ketebalan 5-10 cm, agar dapat menahan hilangnya tanah melalui lubang pot akibat penyiraman.</li>
<li>Di atas alas tersebut diberi campuran media tanam setebal 3-5 cm.</li>
<li>Bibit didekatkan pada pot. Pembungkus bibit dilepaskan dengan hati-hati.</li>
<li>Masukan bibit ke dalam pot, lalu urug dengan sisa media tanam hingga rata dengan bibir pot.</li>
<li>Lakukan penyiraman hingga media turun sekitar 5 cm di bawah bibir pot.</li>
<li>Simpan tanaman dalam pot di tempat teduh untuk sementara, dan beri ganjalan di bawah pot dengan batu bata agar pot tidak bersinggungan langsung dengan tanah yang menyebabkan aliran air siraman terhambat keluar.</li>
<li>Setelah tanaman sawo tampak segar dan muncul tunas, tanaman dapat dipindahkan ke tempat terbuka yang terkena sinar matahari penuh.</li>
</ol>
<p><strong>3. Pemeliharaan</strong></p>
<p><strong>Penyiraman</strong></p>
<p>Penyiraman pada tanaman dalam pot menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Jika tidak turun hujan perlu dilakukan penyiraman 1-2 hari sekali, yang terpenting, media tanam dalam pot dijaga agar tidak mengalami kekeringan ataupun kelebihan air. Cara penyiraman perlu diperhatikan. Penyiraman dengan cara menyiramkan air ke seluruh bagian tanaman dapat membuat tanaman terlihat bersih, akan tetapi jika tanaman sedang berbunga hal ini perlu dilakukan secara cermat agar siraman air tidak membuat bunga rontok. Oleh karena itu, ada baiknya penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor atau <em>nozzle</em>.</p>
<p><strong>Penyiangan</strong></p>
<p>Setelah 1-2 bulan setelah tanam, perlu dilakukan penyiangan untuk membersihkan rumput dan gulma yang menggangu. Jika tanaman sudah tumbuh besar gangguan tersebut tidak berarti, tetapi jika tanaman masih kecil akan sangat berarti karena akan mengganggu pertumbuhan tanaman sawo. Gangguan tumbuhan parasit seperti benalu juga harus diperhatikan. Jika kelihatan pada ranting pohon sawo terdapat benalu atau parasit agar segera dibersihkan dengan cara memotong ranting tempat benalu menempel. Pemotongan sebaiknya dilakukan sebelum benalu berbunga. Perlu pula dilakukan pemberantasan benalu pada pohon lain di dekat tanaman sawo untuk mencegah penularan pada tanaman sawo lainnya. Untuk tanaman sawo dalam pot, perawatan ini tidak begitu digunakan, akan tetapi jika ada tumbuhan pengganggu dalam pot segera dicabut saja lalu dibuang.</p>
<p><strong>Pembubunan/ pendangiran</strong></p>
<p>Pada saat penyiangan, dapat juga dilakukan pembubunan tanah di sekitar tanaman. Pembubunan dilakukan untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman sawo dan untuk memperkokoh batang tumbuhnya. Pendangiran pada pot hanya dilakukan jika media dalam pot sudah tampak memadat.</p>
<p><strong>Pemupukan lanjutan</strong></p>
<p>Sebagai pedoman pemupukan dapat diberikan 250-500 gr urea/pohon/tahun sebelum tanaman sawo berbuah. Pemupukan ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun, karena urea adalah sumber N yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun.</p>
<p>Bila tanaman sudah waktunya berbuah, kurang lebih berumur 4 tahun, dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk majemuk NPK (10-20-15) yang kandungan fosfor (P) dan kaliumnya (K) tinggi sebanyak 500 gr/ pohon tiap tahun. Bila tidak ada NPK bisa diganti dengan pupuk urea, DS, dan KCl sebanyak 108 gr, 277 gr, dan 144 gr. Sedangkan tanaman sawo dalam pot hanya membutuhkan pupuk NPK tersebut sebanyak 50 gr/ tanaman setiap 2 bulan sekali, dan pupuk daun setiap 1-2 minggu sekali dengan dosis yang tertera pada tanaman. Unsur P bagi tanaman berfungsi untuk mempercepat pembungaan, sedangkan unsur K berfungsi untuk menjaga bunga dan buah supaya tidak mudah gugur.</p>
<p>Jumlah pupuk tersebut secara bertahap ditingkatkan sampai 2 kg/pohon tiap tahun untuk tanaman sawo yang telah berumur 15 tahun. Selain urea dan NPK yang diberikan, perlu juga diberikan pupuk kandang sebanyak 10 kg/pohon untuk memperbaiki struktur tanah.</p>
<p>Pemberian pupuk lanjutan tersebut dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Dosis yang diberikan setengah dari yang disebutkan di atas.</p>
<p>Cara pemberian pupuk dengan menaburkan pupuk ke dalam parit yang digali di bawah pohon mengelilingi lingkaran tajuk dengan lebar dan kedalaman ± 10 cm. Dapat juga ditanam pada empat lubang di bawah tajuk pohon dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm untuk tiap lubang. Sedangkan untuk pemupukan dalam pot caranya adalah dengan mengangkat tanah yang bersinggungan dengan pinggir pot sedalam 10 cm, kemudian ditimbun lagi setelah pupuk dimasukan.</p>
<p><strong>Pemangkasan</strong></p>
<p>Tanaman sawo yang dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 20 m. Agar tanaman sawo tidak terlalu tinggi, maka dilakukan pemangkasan. Pemangkasan juga bertujuan membentuk percabangan yang baik dan kuat. Bibit tanaman dalam pot yang berasal dari cangkokan hanya perlu dipangkas untuk memperbaiki bentuk, bukan untuk membentuk tajuk. Akan tetapi jika asal bibit berasal dari sambung pucuk, maka pembentukan tajuk perlu dilakukan sejak semula. Berikut adalah teknis pemangkasan :</p>
<p>a) Pemangkasan Bentuk</p>
<p>Pemangkasan bentuk ditujukan untuk mengatur ketinggian dan bentuk tajuk, agar memudahkan dalam pemetikan buah serta pengontrolan hama dan penyakit.</p>
<p>Pembentukan tajuk tanaman sawo dalam pot dapat dilakukan tidak hanya pada musim hujan. <strong>Pemangkasan pertama</strong> ketika tanaman telah tumbuh cukup kuat (2 bulan setelah tanam). Pemangkasan dilakukan dengan memotong ujung batang hingga tinggal 15-40 cm dari permukaan tanah dalam pot. Tempat pemangkasan harus sedikit di atas ruas batang. Luka bekas pangkasan ditutup dengan cat meni atau parafin untuk mencegah penyakit. Beberapa hari setelah pemangkasan akan tumbuh tunas-tunas baru pada ketiak daun. Tiga dari tunas yang tumbuh sehat dan tidak saling berdekatan dipilih sebagai cabang primer dan dibiarkan tumbuh sedangkan tunas lainnya dibuang. <strong>Pemangkasan ke dua </strong>ketika cabang primer tumbuh sepanjang 20-25 cm ujungnya dipangkas lagi hingga panjangnya tinggal 15-20 cm. Pemangkasan ini dilakukan tepat di atas mata tunas. Akibat pemangkasan ini akan muncul tunas-tunas baru. Dua atau tiga tunas yang sehat dibiarkan tumbuh menjadi cabang sekunder dan tunas yang lain dipotong. Setelah terbentuk cabang sekunder, selanjutnya hanya dilakukan pemangkasn pemeliharaan.</p>
<p>Tanaman sawo dalam pot dapat dibentuk tajuknya tidak hanya dengan pemangkasan, tetapi juga dengan menggugurkan buah-buah yang tumbuh pertama kali, karena biasanya jika buah pertama dibiarkan berkembang pertumbuhan tanaman selanjutnya akan menjadi jelek. Jika menginginkan bentuk tajuk yang sederhana, pemangkasan dapat diakhiri sampai tahap pemangkasan pertama saja, dan selanjutnya hanya untuk pemangkasan pemeliharaan.</p>
<p>b) Pemangkasan Pemeliharaan</p>
<p>Pemangkasan pemeliharaan ditujukan untuk memotong ranting yang terlalu panjang atau rusak dan lemah, mencegah serangan penyakit, memotong cabang-cabang air, serta mengurangi kerimbunan sehingga sinar matahari dapat masuk. Pemangkasan pemeliharaan ini dapat dilakukan setiap saat jika diperlukan.</p>
<p><strong>Penggantian media tanam dan pot</strong></p>
<p>Seperti halnya tanaman yang tumbuh di lahan, tanaman dalam pot juga mengalami perkembangan yang suatu saat menginginkan tempat yang lebih luas. Tidak hanya batang dan tajuknya saja yang berkembang, tetapi perakaran di bawah tanah dalam pot juga berkembang, sehingga ruang dalam pot menjadi berkurang, daya tamping pot untuk menampung media tanam berkurang dan persediaan makan bagi tanaman pun menjadi terbatas. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan penggantian pot (<em>repotting</em>) dengan cara :</p>
<ol>
<li>Siram media dalam pot dengan air hingga      media menjadi lunak dan tanaman mudah dilepas dari pot.</li>
<li>Segera pindahkan tanaman yang sudah      lepas ke dalam pot yang baru/ lebih besar.</li>
<li>Urug bagian pot yang kosong dengan      media yang baru, lalu siram dengan air bersih.</li>
</ol>
<p>Apabila tanaman tidak perlu diganti pot, maka yang diperlukan hanyalah memotong/mengikis sebagian tanah pada bagian sisi dan bawah dengan menggunakan pisau yang bersih dan tajam. Setelah itu, masukan kembali ke dalam pot, lalu timbun dengan campuran media tanam yang sama tapi baru, kemudian siram dengan air.</p>
<p><strong>4. Pengendalian hama dan penyakit</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Hama</span></strong></p>
<p>a)       <strong>Lalat buah (<em>Dacus sp.</em>) Gejala:</strong> terdapat bintik-bintik kecil berwarna hitam atau cokelat pada permukaan kulit, tetapi daging buah sudah membusuk yangdiakibatkan oleh larva lalat yang memakan daging buah. <strong>Pengendalian</strong><strong>:</strong> (1) membersihkan (sanitasi) sisa-sisa tanaman di sekitar tanaman dan kebun; (2) membungkus buah dengan kertas semen atau koran; (3) memasang perangkap lalat buah yang mengandung bahan metyl eugenol, misalnya M-Atraktan, dalam botol plastik bekas; (4) menyemprotkan perangkap lalat buah, seperti Promar yang dicampur dengan insektisida kontak atau sistemik; (5) menginfus akar tanaman dengan laruta insektisida sistemik, seperti Tamaron, dengan konsentrasi 3-5% pada fase sebelum berbunga; (6) menyemprot tanaman dengan insektisida kontak, seperti Agrothion 50 EC dengan dosis 3-4 cc/liter air.</p>
<p>b)      <strong>Kutu hijau (<em>Lecanium viridis </em>atau <em>Coccus viridis</em>) dan Kutu cokelat(<em>Saissetia nigra</em>)</strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Ranting-ranting muda dan daun-daun sawo mengkerut, layu, kering dan terhambat pertumbuhannya. Hal tersebut dilakukan dengan cara menghisap cairan yang terdapat di dalam ranting dan daun. Selain menghisap cairan, kutu-kutu ini juga menghasilkan embun madu yang dapat mengundang kehadiran cendawan jelaga.</p>
<p><strong>Pengendalian</strong><strong>:</strong> dengan penyemprotan insektisida, seperti Diasinon 60 EC dengan dosis 1-2 cc/liter air atau Basudin 50 EC dengan dosis 2 cc/liter air yang disemprotkan langsung ke kutu-kutu tersebut.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Penyakit</span></strong></p>
<p>a)      <strong>Jamur upas (jamur <em>Corticium salmonocolor)</em></strong><em> </em></p>
<p><strong>Gejala</strong>: (1) <em>Stadium rumah laba-laba</em>, ditandai dengan munculnya meselium tipis berwarna mengkilat seperti sutera atau perak pada cabang atau ranting. Pada stadium ini jamur belum masuk ke dalam kulit tanaman sawo; (2) <em>Stadium</em> <em>bongkol, </em>jamur membentuk gumpalan-gumpalan hifa didepan lentisel sebelum memasuki kulit sawo; (3) <em>Stadium corticium, </em>jamur membentuk kerak berwarna merah muda yang berangsur-angsur berubah menjadi lebih muda lalu menjadi putih. Kulit tanaman sawo yang terdapat di bawah kerak tersebut akan membusuk; (4) <em>Stadium necator, </em>jamur membentuk banyak <em>piknidium </em>yang berwarna merah pada sisi cabang atau ranting yang lebih kering.</p>
<p><strong>Pengendalian</strong>: (1) Pada stadium laba-laba, penyakit ini dapat diatasi dengan cara menggosok tempat yang terserang jamur sampai hilang. Bekas luka gosokan diolesi dengan cat meni, ter, atau carbolineum; (2) Penyemprotan dengan fungisida yang mengandung tembaga berkadar tinggi seperti Cupravit OB 21 dengan dosis 4 gram/liter air setiap tiga minggu sekali untuk menghindari munculnya serangan lagi; (3) Pemotongan pada bagian tanaman yang terserang apabila jamur sudah mencapai stadium bongkol, corticium, atau necator. Pemotongan dilakukan pada bagian yang sehat jauh dari batas bagian yang sakit. Bagian yang dipotong kemudian diolesi dengan fungisida serta potongan yang terserang penyakit segera dibakar untuk mencegah spora berterbangan. Pemotongan cabang atau ranting juga dilakukan untuk mengurangi kelembaban yang dapat mendorong pertumbuhan spora.</p>
<p>b)      <strong>Jamur jelaga (jamur <em>Capnodium sp.</em>) </strong></p>
<p><strong>Gejala</strong>: berupa warna hitam seperti beludru yang menutupi permukaan daun sawo. Jamur ini sebenarnya hanya memakan madu yang dikeluarkan oleh serangga (<em>Indicerus sp.</em>), akan tetapi jika dibiarkan lama kelamaan dapat menutupi seluruh daun dan ranting tanaman sawo, sehingga proses fotosintesa tanaman sawo akan terganggu dan pertumbuhan terhambat. Serangan yang terjadi pada saat tanaman berbunga dapat mengakibatkan buah yang terbentuk hanya sedikit. Jika yang terserang adalah buah, dapat menyebabkan kerontokan atau berkurangnya kualitas buah.</p>
<p><strong>Pengendalian: </strong>(1) melenyapkan serangga yang menghasilkan embun madu terlebih dahulu dengan insektisida; (2) dilakukan penyemprotan dengan fungisida seperti Antracol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air atau Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4 gram/liter air.</p>
<p>c)      <strong>Busuk buah (jamur <em>Phytopthora palmivora </em>Butl.)</strong></p>
<p><strong>Gejala</strong>: mula-mula kulit buah berbercak-bercak kecil berwarna hitam atau cokelat, kemudian melebar dan menyatu secara tidak beraturan, daging buah membusuk dan berair, serta kadang-kadang buah berjatuhan (gugur).</p>
<p><strong>Pengendalian</strong>: (1) dengan cara pemotongan buah yang sakit berat, pengumpulan dan pemusnahan buah yang terserang; (2) penyemprotan fungisida, seperti Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8 gr – 2,4 gram/liter air.</p>
<p>d)     <strong>Hawar benang putih</strong> <strong>(</strong><strong>jamur (cendawan) <em>Marasmius scandens </em>Mass.)</strong></p>
<p><strong>Gejala</strong>: daun-daun mengering dan berguguran. Pada ranting yang mengering terdapat benang-benang jamur berwarna putih.</p>
<p><strong>Pengendalian</strong>: (1) dengan cara mengurangi kelembaban kebun, memotong bagian tanaman yang sakit berat; (2) mengoleskan atau menyemprotkan fungisida, seperti Benlate dengan dosis 2 gr/1 air.</p>
<p><em>*dari berbagai sumber</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.agrikaindoraya.com/menanam-tabulampot-sawo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rambutan Pun Bisa Ditabulampotkan</title>
		<link>http://www.agrikaindoraya.com/rambutan-pun-bisa-ditabulampotkan/</link>
		<comments>http://www.agrikaindoraya.com/rambutan-pun-bisa-ditabulampotkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 13:10:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.agrikaindoraya.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Redaksi Agrika Tanaman buah tropis asli Indonesia ini mulai marak ditanam di halaman rumah. Tidak saja di tanah, tetapi juga di pot plastik atau drum. Jika ditanam di lahan, tingginya bisa mencapai 6,5-7,5 m. Tetapi, jika ditanam dalam pot, tanaman bisa dikerdilkan hingga tingginya hanya mencapai 2-3 m. Banyak sekali varietas unggulan dari buah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Redaksi Agrika</em></p>
<div id="attachment_392" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-392" href="http://www.agrikaindoraya.com/rambutan-pun-bisa-ditabulampotkan/rambutan-2/"><img class="size-thumbnail wp-image-392" title="rambutan" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/04/rambutan1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Selain dikonsumsi segar, rambutan sering dikalengkan</p></div>
<p>Tanaman buah tropis asli Indonesia ini mulai marak ditanam di halaman rumah. Tidak saja di tanah, tetapi juga di pot plastik atau drum. Jika ditanam di lahan, tingginya bisa mencapai 6,5-7,5 m. Tetapi, jika ditanam dalam pot, tanaman bisa dikerdilkan hingga tingginya hanya mencapai 2-3 m. Banyak sekali varietas unggulan dari buah yang berambut ini. Sebut saja rapiah dan Binjai. Kedua jenis ini banyak dipilih karena rasanya manis dan <em>ngelotok.<span id="more-388"></span><br />
</em></p>
<p><strong>Lingkungan tepat, performa prima</strong></p>
<p>Lingkungan memang memegang peranan yang penting untuk menghasilkan performa rambutan prima. Sebaiknya, rambutan ditanam di daerah dengan ketinggian 30-500 m dpl. Pada ketinggian di bawah 30 m dpl, rambutan dapat tumbuh, tetapi tidak begitu baik hasilnya. Suhu lingkungan yang diinginkan 20-35ºC. Intensitas curah hujan berkisar antara 1.500-2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Kelembapan udara yang dikehendaki cenderung rendah karena kebanyakan tumbuh di dataran rendah dan sedang. Kondisi udara dengan kelembapan yang rendah serta miskin uap air cocok untuk pertumbuhan tanaman rambutan. Sinar matahari harus dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak terbit hingga terbenam, intensitas pancaran sinar matahari erat kaitannya dengan suhu lingkungan. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kempes).</p>
<p><strong><em>Penanaman di pot</em></strong></p>
<div id="attachment_393" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-393" href="http://www.agrikaindoraya.com/rambutan-pun-bisa-ditabulampotkan/bibit-rambutan/"><img class="size-thumbnail wp-image-393" title="bibit rambutan" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/04/bibit-rambutan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Untuk tabulampot, gunakan bibit rambutan sehat</p></div>
<p>Penanaman rambutan dalam pot seringkali mogok berbuah, bahkan tak berbuah sama sekali atau mati sebelum berbuah. Tanaman rambutan dalam pot sebetulnya bisa menghasilkan buah, asal kita tahu teknik penanaman serta perawatannya. Berikut adalah tahapan melakukan penanaman tanaman rambutan dalam pot.<strong> </strong></p>
<p><strong>Menyiapkan pot</strong></p>
<p>Pot yang digunakan sebaiknya berupa drum berukuran agak besar, sebab ukuran bibitnya juga agak besar. Misalnya, bibit rambutan Binjai setinggi 60-75 cm, sebaiknya menggunakan drum dengan diameter sekitar 50-60 cm. Bagian dasar drum harus diberi lubang-lubang kecil, kemudian diberi ganjalan berupa batu bata atau batako sehingga pembuangan air penyiraman lancar. Urutan isi drum sebelum media tanam ialah:</p>
<ol>
<li>Masukkan pecahan batu bata ke dasar drum hingga mencapai seperempat bagian drum.</li>
<li>Di atas lapisan batu bata, isikan selapis ijuk atau humus atau daun-daun kering.</li>
<li>Masukkan pupuk kandang hingga mencapai 2 cm di bawah bibir drum. Siram hingga cukup basah.</li>
</ol>
<p><strong>Menyiapkan media tanam</strong></p>
<p>Media tanam untuk penanaman dalam pot memiliki banyak variasi. Misalnya campuran tanah gembur, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 5 : 1 : 2. Ada juga campuran pupuk kandang, pasir, dan sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Campuran media tanam lainnya bisa berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2, atau campuran sekam dan pasir dengan perbandingan 1 : 1. Sebaiknya, media tanam ditambahkan dengan insektisida Furadan 3 G sebanyak 100 g/drum untuk mencegah serangan hama.</p>
<p><strong>Penanaman bibit dalam pot</strong></p>
<ol>
<li>Siram media tanam dalam polibag, lalu sobek, dan keluarkan bibit bersama tanahnya.</li>
<li> Pangkas akar, daun, dan cabang bila tampak panjang.</li>
<li> Gali media dalam drum membentuk lubang yang sesuai ukuran perakaran bibit.</li>
<li>Tambahkan pupuk NPK, dengan perbandingan 15 : 15 : 15, sebanyak 100 gram, lalu aduk-aduk hingga merata.</li>
<li>Masukkan bibit ke lubang dalam drum. Tekan tanah pelan-pelan pada bagian pangkal bibit.</li>
<li>Siram sampai cukup basah.</li>
<li>Untuk sementara waktu, beri tutup kantung plastik transparan dan letakkan di tempat yang teduh. Jika sudah tumbuh tunas-tunas baru, singkirkan tutup</li>
</ol>
<p><strong>Rawat agar berbuah</strong></p>
<div id="attachment_394" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-394" href="http://www.agrikaindoraya.com/rambutan-pun-bisa-ditabulampotkan/rambutan-dalam-pot-2/"><img class="size-thumbnail wp-image-394" title="rambutan dalam pot" src="http://www.agrikaindoraya.com/wp-content/uploads/2011/04/rambutan-dalam-pot1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Agar rajin berbuah, rambutan harus dipelihara</p></div>
<p>Perawatan penting pada tabulampot rambutan adalah penyiraman, penggemburan, pemupukan, dan pemangkasan.<br />
Di musim kemarau, penyiraman sangat perlu. Jika memakai air PAM, yang biasanya mengandung kaporit, sebaiknya endapkan dulu semalam, dan baru esoknya disiramkan. Namun, usahakan benar-benar jangan sampai air siraman menggenang lebih dari 12 jam. Genangan air bisa merangsang timbulnya penyakit busuk akar. Pemadatan media biasanya terjadi karena penyiraman yang berlebihan. Setelah itu, lakukan penggemburan dengan menggunakan sekop kecil. Hati-hati, jangan sampai merusak akarnya.</p>
<p>Meski media tanam menggunakan pupuk kandang, pupuk organik masih diperlukan. Sampai umur 2 tahun, setiap 4 bulan, tambahkan NPK (15:15:15) sebanyak 25 gram per drum. Sejak umur 3 tahun dan seterusnya, setiap drum diberi 100 gram NPK (15:15:15). Caranya, benamkan pupuk NPK sedalam 10 cm, lalu siram hingga cukup basah.</p>
<p>Selain untuk membentuk tajuk tanaman, pemangkasan juga bertujuan agar tanaman tampak pendek serta cabang dan pertumbuhannya seimbang. Pemangkasan pertama kali dilakukan saat tanaman berumur kurang dari setahun, atau tinggi batang sekitar 75-100 cm dari permukaan drum. Cara pemangkasan, untuk pemangkasan pertama ialah :</p>
<ol>
<li>Pilih 3 cabang primer. Bila panjang cabang primer mencapai 50 cm, pangkas ujungnya hingga tumbuh cabang-cabang sekunder.</li>
<li>Pilih hanya tiga cabang sekunder per cabang primer. Selanjutnya, pangkas ujung cabang sekunder sampai tumbuh cabang tersier,</li>
<li>Pilih hanya tiga cabang tersier. Ketiga cabang tersier ini akan mengalami pembungaan dan pembuahan.</li>
<li>Pemangkasan juga dilakukan sesudah pemanenan buah.</li>
</ol>
<p><strong>Pengendalian hama dan penyakit</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Hama</span></strong></p>
<p><strong>Kutu putih </strong><strong>(<em>Cacao mealybug</em>)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Kerusakan secara langsung dengan menghisap cairan tanaman, dan pada tingkat kerusakan berat dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman serta menimbulkan kerontokan buah muda. Secara tidak langsung, kutu menghasilkan embun madu sebagai tempat hidup cendawan jelaga.</p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Cara mekanis : Pemangkasan dan sanitasi kebun<strong> </strong></p>
<p>Cara biologi : Pemanfaatan musuh alami seperti semut hitam, dan cendawan parasit <em>Empusa fresenii</em>, predator <em>Cryptolaemus. </em>Pemanfaatan musuh alami seperti semut hitam, dan cendawan parasit  <em>Empusa fresenii</em>, predator <em>Cryptolaemus montrouzieri </em>(Coccinellidae) dan <em>Leptomastidae abnormis </em>(Encyrtidae).</p>
<p>Cara kimia : Gunakan Insektisida Lebaycid 550 dengan kosentrasi 0.2 % (disesuaikan keadaan tajuk tanaman<strong></strong></p>
<p><strong>Penggerek buah (</strong><strong><em>Acrocercops cramerella)</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Larva menggerek dan membuat lubang di bawah kulit buah dan meninggalkan kotoran. Kadang-kadang larva masuk lebih dalam lagi ke dalam daging buah, bahkan sampai ke dalam biji. Serangan larva tidak tampak dari luar dan baru dapat diketahui setelah buah dikupas.</p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Teknis :<strong> </strong>tidak menanam rambutan berdekatan dengan tanaman kakao</p>
<p>Cara mekanis :<strong> </strong>Melakukan pemangkasan dengan tujuan memutus siklus hidup hama.</p>
<p>Cara biologi :<strong> </strong>Pemanfaatan musuh alami sejenis tabuhan sebagai parasitoid pupa, dan laba-laba sebagai predator telur dan pupa. Pemanfaatan agens antagonis <em>Beauveria bassiana</em>.</p>
<p><strong>Hama Tirathaba (</strong><strong><em>Tirathaba ruptilinea)</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong><em>Tirathaba ruptilinea </em>dikenal sebagai perusak pembungaan dan pembuahan. Rusaknya daunmuda dan pangkal bunga akibat digerek oleh Tirathaba</p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Cara mekanis : Kumpulkan daun dan bunga yang terserang untuk dikumpukan dan dimusnahkan dengan cara dibakar.<strong> </strong></p>
<p>Cara biologi : Pemanfaatan musuh alami antara lain lalat Tachinidae (<em>Argyroplax basifulva</em>), <em>Venturia </em>sp. (Ichneumonidae), <em>Apanteles tirathabae </em>(Braconidae) dan <em>Telenomus tirathabae </em>(Scelionidae).</p>
<p>Cara kimia : Semprot dengan Insektisida dengan Diazion 60 EC kosentrasi 0,5-0,2% /liter<strong></strong></p>
<p><strong>Ulat daun (</strong><strong><em>Hyperaeschrella insulicola)</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Larva memakan daun rambutan hingga tanaman menjadi gundul dan meranggas, terutama pada larva instar 3 dan 4<strong></strong></p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Teknis :<strong> </strong>Sanitasi kebun. Pemupukan tanaman. Pemberian air pengairan (apabila memungkinkan)</p>
<p>Cara biologi : Gunakan musuh alami semut merah</p>
<p>Cara mekanis : Pengumpulan larva, pra-pupa dan pupa serta memusnahkannya (dikubur/dibakar). Pengasapan/pengoboran untuk mengusir ngengat yang hinggap di pohon dan membunuh larva.</p>
<p>Cara kimia :<strong> </strong>Penggunaan insektisida racun kontak atau racun perut, dengan menggunakan alat aplikasi skid power srayer atau pengabut panas (fogger). Penyemprotan insektisida diusahakan pada larva instar 1-3<strong></strong></p>
<p><strong>Ulat daun (</strong><strong><em>Tarsolepis sommeri)</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala: </strong>defoliasi (daun gundul).<strong> </strong></p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Cara mekanis :<strong> </strong>Pengasapan di bawah pohon untuk mengusir imago (serangga dewasa). Pembakaran sisa-sisa daun kering di sekitar pohon untuk membunuh pupa sebelum menjadi imago. Pemungutan secara langsung larva yang ada di daun kemudian dimusnahkan.</p>
<p>Cara kimia :<strong> </strong>Penyemprotan dengan insektisida efektif dan diizinkan Menteri Pertanian.<strong></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Penyakit</span></strong></p>
<p><strong>Embun Tepung </strong><strong><em>(Oidiumnephel ii)</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Bagian daun terdapat tepung berwarna abu-abu</p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Teknis : Menggunakan varietas yang tergolong tahan terhadap penyakit ini, yaitu Sibabat.<strong> </strong></p>
<p>Cara mekanis : Pemangkasan dan sanitasi lalu dimusnahkan dengan cara dibakar.</p>
<p>Cara kimia : Gunakan fungisida berbahan aktif benomil seperti Benlate<strong></strong></p>
<p><strong>Jamur Upas <em>(Upasia Salmonicolor)</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Cabang/ranting banyak yang layu, timbul benang cendawan seperti sarang laba-laba</p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Teknis : Pemangkasan dan sanitasi kebun.</p>
<p>Cara mekanis : Jika cendawan sudah mencapai stadium kortisium, sebaiknya cabang dipotong lebih kurang 30 cm di bawah bagian yang kulitnya sudah membusuk</p>
<p>Cara kimia : Gunakan Fungisida seperti bubur kalifornia.atau Bordox.<strong></strong></p>
<p><strong>Benang putih (</strong><strong><em>Marasmius </em></strong><strong>sp.)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Cabang/ranting banyak terdapatbenang putih. Daun yang mati tidak langsung rontok melainkan tergantung denganbenang putih</p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Teknis<strong> </strong>: Pemangkasan dan sanitasi</p>
<p>Cara kimia : Gunakan Fungisida seperti benlate atau Cupravit sesui dosis yang dianjurkan<strong></strong></p>
<p><strong>Busuk Buah <em>(Glicophalotric humbulbilium)</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Buah yang masih kecil menjadi hitam dan rontok<strong> </strong></p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Teknis : Pemangkasan dan sanitasi kebun.</p>
<p>Cara kimia : Gunakan fungisida berbahan aktif karbendazin dengan kosentrasi 4 cc/liter air.<strong></strong></p>
<p>Perlakuan pascapanen : Mencegah adanya pelukaan pada waktu panen dan pengangkutan<strong></strong></p>
<p><strong>Kanker batang <em>(Dolabranepheliae </em>Boot</strong><strong> </strong><strong>&amp; Ting)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Gejala : </strong>Batang utama kulit pohon banyak terdapat kudis<strong></strong></p>
<p><strong>Pengendalian : </strong>Teknis : Mengerok batang yang terserang kudis</p>
<p>Cara kimia : Gunakan karbol atau deterjen secukupnya</p>
<p>*dari berbagai sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.agrikaindoraya.com/rambutan-pun-bisa-ditabulampotkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

